Selasa, 28 Juni 2016

Merindukan Senja

Hai senjaku, apa kabarmu saat ini? apakah kau masih ingat dengan ku? bisakah kau mengingat kembali kapan terakhir kalinya kau hadir untuk menjadi senja bagi ku?

Wahai senja apakah kau sadar jika apa yang kau lakukan saat ini membuat sang pengembara kehilangan arah? ingatkah kau dulu menjanjikan kepastian arah pada sang pengembara?

Dulu saat sang pengembara mencari arah untuk menemui takdirnya ia mulai tersesat sangat jauh dijalan yang salah, dengan tiba-tiba kau menepuk pundak sang pengembara dan memberikan senyuman kepastian yang membuat sang pengembara mulai berpikir bahwa ia akan selamat dari jalan yang sesat ini. Ingatlah keadaan ini saat sang pengembara melihatmu dengan pandangan yang sangat kosong diam-diam ia punya harapan penuh untukmu sebagai penyelamatnya.

Dengan baiknya kau mengulurkan tanganmu untuk sang pengembara, dan mulailah kisah rumit yang susah untuk dipahami ini dimulai. Tidak ada satupun kata yang bisa mengambarkan arti dari dirimu sesungguhnya, lalu mengapa kau disebut dengan senja? dan siapa sebenarnya sang pengembara itu?

Diriku sebagai sang pengembara, dan kau sebagai senja.

Apakah kau mulai lupa atau sudah lupa tentang apa yang telah kau janjikan? keadaan yang kau janjikan kini tidak tampak sedikitpun, disini dan selama ini aku hanya melihat kekeliruhan yang besar. Apa yang salah? Dan siapa yang salah?

Sang pengembara yang sudah berpikir sangat kacau mulai melihat jawaban atas apa yang terjadi selama ini, dua sifat yang dipaksakan menjadi satu itu salah, namun saat mulai mancari jalan masing-masing itu juga salah.

Kadang ada kalanya semua pikiran dewasa harus disisishkan sejenak, mulailah berpikir seperti anak yang berumur 2 tahun, pada masa-masa seperti itu tidak ada satupun pikiran kotor ataupun prasangka yang dapat membuat diri sendiri lenyap dalam kesalah. Sang pengembara yang sadar akan apa yang telah ia lakukan mulai mengingat kembali kapan terakhir dirimu menjadi senja baginya, dan jawabannya adalah tidak pernah ada kata terakhir. kenapa? karna kau selalu berusahan menjadi senja bagiku.

Ketika diri ini lelah kau hadir sebagai senja yang menghapuskan semua rasa lelah untuk setiap harinya, kau selalu datang disaat semua masalah mulai menggerogoti pikiran ini, kau yang pantang menyerah menjadi senjaku, kau yang paling tau titik dimana aku harus mulai beristirahat dari semua masalahku, kau yang tidak pernah berbohong untuk menjadi senja dan memberikan kebahagiaan disetiap akhir hari-hariku.

Lalu bagaimana bisa kekeliruhan ini datang? Kenapa kadang kau tidak terihat seperti senja?

Jawaban dari segala pertanyaan yang rumit ini ada didalam diri kami masing-masing dan mulai bepikir sebagai anak yang berumur 2 tahun, senja yang menjadi bagian sangat penting dari kehidupan sang pengembara mamiliki sifat yang saat bertolak belakang dengan sang pengembara begitu juga sebaliknya, disitulah titik awal semua permasalahn terjadi, dua sifat yag dipaksakan manjadi satu adalah jalan yang salah.

Tidak seharusnya senja dan sang pengembara memaksakan hal yang tidak seharusnya dipaksakan, senja dan sang pengembara mulai sadar ketika mereka memilih cara melukai satu sama lain. Bukan kepuasaan atau ketenangan yang didapat melainkan rasa bersalah yang datang bertubi-tubi.

Senja yang datang setiap hari untuk menghapusakan rasa lelah dan sedih tidak pernah tampak dimata sang pengembara, begitu juga dengan sang pengembara yang selalu berusaha setiap harinya menjadikan senja sebagai titik terakhir dalam setiap ceritanya tidak pernah tampak karena dua sifat yang berbeda itu membuat mereka buta dan mati rasa akan apa yang dilakukan maisng-maisng untuk menjadi yang terbaik.

Mulailah dipahami oleh sang pengembara bahwa apa yang ia lakuakan salah, tidak seharusnya ia memaksakan senja menjadi apa yang ia inginkan, kesadaran itupun datang terlambat. Walaupun senja tidak pernah pergi dari sang pengembara namun rasa hangat yang diberikan senja kepada sang pengembara sudah tidak lagi sama seperti dulu.

Penyesalahan yang ada tidak dijadikan sebagai batu cobaan yang menghambat jalan sang pengembara namun sang mengembara menjadikan penyesalan itu sebagai patokan hidupnya bahwa ada jalan lain selain saling memaksa yaitu saling memahami, mengalah, dan memaafkan.

Senja yang tak pernah hilang namun telah berbeda kehangantannya tetaplah menjadi senja bagi sang pengembara, ketidak cocokan dan perbedaan keduanya tidak menjadi halangan bagi mereka untuk tetap bersatu.

Hai senja terima kasih atas segala pengorbanan dan kesabaran yang kau berikan, kini sang pengembara sadar ini lah waktu yang tepat unutk memulai kisah yang lebih baik. Karena hidup harus mempunyai kegagalan dan penyesalan untuk bertahan dan belajar. Wahai senja terimalah usaha sang pengembara ini untuk menjadi seseorang yang memehamimu.

3 komentar:

N. Anggraini Putri. Diberdayakan oleh Blogger.

Halaman

About

Nurul Anggraini Putri
For general questions you can find me on
Twitter @anggraptry
Instagram @anggraptry
or e-mail me Naputy1801@gmail.com
thankyou :)